Geliat UMKM dan Semangat Enterpreneurship di Tapango

0
20
Advertisement

Laporan: Risna DN.

TAPNGO, BinaBaca.com–Seminar yang menghadirkan narasumber anggota DPD RI Dapil Sulbar, Ajbar dan dosen Unsulbar Muhammad Abduh selaku founder organisasi LIMATA. Bertempat di aula Kecamatan Tapango, (11/06).

Seminar tersebut di atas berharap bisa mengembangkan perekonomin di tengah pandemi. Seminar ini mengangkat tema “Bangun Jiwa Entrepreneur Dalam Semangat Geliat UMKM Sebagai Solusi Membangun Pilar Ekonomi Bangsa di Tengah Pandemi”

Muhammad Abduh, selaku dewan pembina LIMATA menyampaikan, seminar ini bertujuan untuk mengembangkan perekonomian masyarakat yang saat ini tersendat akibat pandemi covid-19.

“Kita tahu, bahwa pandemi ini membuat sektor ekonomi mengalami penurunan oleh karena itu, tujuan diadakannya seminar ini untuk membangun semangat muda mudi, agar tercipta jiwa entrepreneur. Usaha apa yang ingin mereka lakukan, solusi dari kendala yang akan mereka temukan saat menjadi pelaku usaha, sehingga perekonomian yang tersendat karena Covid-19 kembali bangkit ” tutur Abduh.

Ia juga menuturkan, bahwa geliat ekonomi harus ditingkatkan di tengah pandemi, dan masyarakat harus lebih kreatif dalam mengembangkan usaha.

Ditempat yang sama, Senator Ajbar juga menyampaikan bahwa jiwa entrepreneur itu harus dikerjakan bukan hanya dibicarakan.

“Bagi saya, entrepreneur itu harus dikerjakan bukan dibicarakan. Kapan tidak dikerja, kita tidak dapatkan hasilnya. Juga tidak sekadar dikerja, tapi juga dibutuhkan pengetahuan atau keilmuan di dalamnya,”ungkap senator.

Dalam seminar tersebut, ia juga menyinggung persoalan sampah yang merebak di Polewali Mandar.

“Kita disibukkan dengan persoalan sampah dan agaknya, pemerintah daerah memandangnya acuh, ditambah lagi pernyataan bupati yang betul betul pasrah. Padahal, menurut saya sampah ini potensi kalau anak-anak muda bisa dilibatkan dan menangkap peluangnya, bisa bernilai profit dan nilai jual yang tinggi” tegas Ajbar.

Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa saat ini, perbankan kurang peminjam, dan ini bisa menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk meminjam modal usaha jika urgen diperlukan dan kekurangan modal usaha.

“Perbankan itu kekurangan peminjam. Bagi saya, ini kesempatan membuat usaha jika sekiranya kekurangan modal. Tapi, kita juga harus paham perencanaan dalam menciptakan sebuah bisnis. Paham produksi dan desainnya seperti apa. Di Bank itu, misalnya, kita pinjam 500 juta ke bank. Dan bank tidak sertamerta memberikan 500 juta. Tapi step by step sesuai perencanaan kita. 20 % dikasi 20%, 30% dan seterusnya. Sehingga bank tidak ragu-ragu memberikan,” tutur anggota DPD RI tersebut.

Ajbar juga juga menyampaikan bahwa hanya dengan nenjadi katalisator saat merintis pepaya California bersama masyarakat Napo, ia bisa mendapatkan keuntungan 20 juta rupiah dalam sebulan. Tapi beliau tidak ambil dan diserahkan semua ke petani. Ia berpikir yang seharusnya yang mengelolah adalah Bumdes.

“Saat itu, saya hanya menjadi katalisator penyambung antara pasar dan petani. Bayangkan, jika Bumdes yang kelolah. Saya pikir hadirnya Bumdes tidak harus menjadi pelaku usaha melainkan harus menjadi konsolidator ekonomi di desa. Begitu ia menjadi konsolidator, maka pekerjaan pertama yang dilakukan, melakukan pemetaan/identifikasi jumlah dan jenis usaha yang ada didesa kemudian, Identifikasi potensi tiap usaha dan pemetaan dengan mencari tahu, apakah tiap usaha memiliki pasar di daerah tertentu atau tidak dan mencari tahu apakah kekurangan modal.” lanjut Ajbar.

Ia berharap, masyarakat bisa memikirkan usaha apa yang bisa dikelola, produksi dan desainnya terencana dengan matang.

“Bagi saya, ada banyak cara untuk mendapatkan materi. Oleh karena itu, melalui seminar ini diharapkan bisa menjadi wadah untuk berpikir usaha apa yang akan dikelolah, bagaimana produksi dan desainnya, dan jika ada kendala bisa dikonsultasikan sehingga ekonomi di tengah pandemi bisa terpulihkan kembali.” harap senator Ajbar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here