Senator Ajbar Kupas Fungsi Pancasila di Sosialisasi MPR-RI

0
20
Advertisement

WONOMULYO, binabaca.com–Anggota DPD Dapil Sulawesi Barat, Ajbar sebagai pematero pada sosilaisasi Empat Pilar Kebangsaan Pancasila, UUD-1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika yang bertempat di Gedung Rutan Polis, Jl. Kesadaran Kec. Wonomulyo, Kab. Polewali Mandar, Kamis (24/06/21).
Sosialisasi empat pilar tersebut dihadiri ratusan peserta dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia Kab. Polewali Mandar, Majene, Mamuju, Mamuju Tengah dan Kabupaten Pasangkayu , Tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan tokoh pendidik. Ajbar memaparkan hal-hal terkait Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dan memberikan pembelajaran lebih guna meningkatkan kesadaran masyarakat tentang berkehidupan berbangsa dan bernegara bersama. Sebelumnya ia terlebih dahulu menjlelaskan tentang Sarekat Islam dimana, disitulah titik awal persatuan dimulai karena perluasan pedagangan China memonopoli perdagangan Indonesia.
“Organisasi dagang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh K.H Samanhudi pada 16 Oktober 1905. Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam dengan tujuan untuk menggalang kerja sama antara pedagang Islam demi memajukan kesejahteraan pedagang Islam pribumi. Sarekat Dagang Islam di bentuk sebagai wadah persatuan karena Perdagangan China mulai menguasai Indonesia” terang Ajbar.
Selanjutnya, Senator Sulbar itu menjelaskan sejarah singkat tentang pembentukan Pancasila dan fungsi Pancasila.
“Sebelum menjadi pancasila, disebut sebagai piagam Jakarta. Piagam Jakarta adalah hasil kompromi tentang dasar negara Indonesia antara golongan nasionalis dengan golongan Islam. Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) merumuskan bentuk pemerintahan melalui pemungutan suara. Dalam Piagam Jakarta di Sila pertama berbunyi Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya. Maeda menyampaikan keberatan para tokoh Indonesia bagian Timur atas pemakaian kata-kata tersebut, sebab berarti rumusan itu tidak berlaku bagi pemeluk agama lain” Terang Senator Ajbar.
Untuk menghindari perpecahan, esoknya sebelum sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Hatta berbincang dengan tokoh-tokoh Islam.
“Mereka setuju untuk menghilangkan kata-kata tersebut di atas dan menggantinya dengan kata “Yang Maha Esa”, dengan rumusannya menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa,” ungkap Ajbar.
Akhirnya diubahlah menjadi Pancasila dan Fungsi Pancasila meliputi lima manfaat umum dan lima manfaat spesifik, seperti; sebagai panduan hidup, sumber hukum, sumber norma, perjanjian luhur, dan falsafah hidup bangsa Indonesia.
Dalam sosialisasi tersebut, Ajbar juga menjelaskan bahwa pasca reformasi, MPR mengadakan rapat tentang kelanjutan empat pilar kebangsaan.
“Pasca reformasi, MPR mengadakan rapat bahwa ditengah eforia orang bebas, MPR bersepakat untuk mendesain bagaimana empat pilar berbangsa dan bernegara ini diteruskan karena hanya dengan empat pilar ini, kita bisa bersatu dari sabang sampai merauke. Dengan Pancasila sebagai Ideologi Negara, Undang–undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) adalah hukum dasar tertulis, konstitusi Pemerintahan Negara Republik Indonesia, NKRI yang berdiri dari Sabang sampai Merauke dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan motto atau semboyan Bangsa Indonesia yang tertulis pada lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila” pungkasnya.
Dalam sosialisasi tersebut, ia juga menjelaskan tentang APBD yang bersumber dari negara, yang tentunya ada sumbangan dari daerah lain sehingga APBD Kabupaten Polewali Mandar bisa mencapai sekitar 1,5-1,6 M/Tahun.
“Betapa republik ini amat adil terhadap kita dan daerah kita. Anggaran pendapatan belanja daerah kita yang sekitar 1,5 tapi pendapatan daerah kita aslinya tidak lebih dari 200 miliar. Boleh jadi anggaran yang kita dapatkan berkisar 1,5 triliun yang kita nikmati diambil dari sumber daya alam Papua atau atau batu bara Kalimantan yang tiap saat dikeruk habis-habisan untuk kehidupan daerah lain. Ini menunjukkan bahwa kontribusi besar daerah lain agar kita bisa hidup. Mengapa bisa seperti itu,? tanya Ajbar kepada peserta Sosialisasi.
Ajbar menjawab sendiri pertanyaan tersebut di atas bahwa karena kita memiliki Pancasila, Bhineka Tunggal Ika yang dibingkai dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan ini memiliki makna bahwa konstitusi kita memiliki kekuatan yang luar biasa.
“Kita tidak akan bisa menuju adil dan makmur tanpa bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia” jelas Ajbar mantan Anggota DPRD Sulbar dua periode.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here