Para Arsitek Kritik Desain IKN Nusantara: yang Penting Bukan Mewah dan Megah

0
92
Desain Istana Kepresidenan karya Nyoman Nuarta di ibu kota baru. Foto: Dok. Nyoman Nuarta
Advertisement

Para arsitek angkat bicara terkait pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Lima asosiasi arsitek hingga rancang kota mengemukakan gambaran bangunan dan paradigma kota masa depan.

Bagian utama yang disoroti adalah soal bukan kemegahan yang terutama harus ditampilkan pusat pemerintahan masa depan. Melainkan pembangunan yang memerhatikan kelestarian lingkungan, menjaga keberlanjutan, hingga nyaman ditempati generasi-generasi selanjutnya.

Sebagaimana diketahui, rencana pembangunan IKN Nusantara memasuki babak baru setelah Undang-undang IKN diketuk DPR. Desain ibu kota karya seniman patung Nyoman Nuarta pun sudah muncul ke publik.

Rancangan Nuarta itu menampilkan desain megah Istana Garuda hingga berbagai bangunan megah dan fasilitas transportasi modern. Selain desain istana, belakangan muncul juga berbagai rencana fasilitas berteknologi modern yang akan menunjang pusat pemerintahan yang baru.

Para Arsitek Kritik Desain IKN Nusantara: yang Penting Bukan Mewah dan Megah (1)
Desain Istana Kepresidenan karya Nyoman Nuarta di ibu kota baru. Foto: Dok. Nyoman Nuarta

Sebut saja seperti rencana pembangunan tol bawah laut hingga bandara antariksa mengadopsi teknologi SpaceX.

“Build more with less, ini menjadi trend global. Bukan menjadi mewah, megah, dan sebagainya. Tapi kota green economy, nett zero emission,” ujar Ketua Umum Green Building Council Indonesia Iwan Prijanto, dalam diskusi virtual pada Rabu (26/1).

Iwan menjelaskan, aspek terpenting dari beralih ke konsep sustainability alias berkelanjutan bukan soal konsep ruang bangun, melainkan konsep kesadaran masyarakatnya buat lebih bertanggung jawab.

Bila dalam konteks pembangunan IKN Nusantara, berarti merujuk ke pembangunan yang lebih bertanggung jawab dalam penggunaan sumber daya. Meminimalkan dampak atas lingkungan dan sosial.

“Jangan bayangkan kota ke depan yang ideal bukan kota yang megah. Tapi yang bersahaja dalam sumber daya, dan produktivitas tertinggi. Memberikan investasi yang cukup bagi lingkungan, alam harus dirawat,” tuturnya.

Para Arsitek Kritik Desain IKN Nusantara: yang Penting Bukan Mewah dan Megah (2)
Desain Istana Kepresidenan karya Nyoman Nuarta di ibu kota baru. Foto: Dok. Nyoman Nuarta

Dalam diskusi yang sama, Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia Hendricus Andy Simarmata mengemukakan, untuk membangun kota masa depan pilar pertama yang mesti diperhatikan adalah lingkungan.

Pembangunan mesti mempertimbangkan daya dukung lingkungan hidup. Kedua yakni lapisan sosial. Di mana pembangunan sebuah kota mesti memastikan pemerataan. Terakhir baru aspek ekonomi dari pembangunan tersebut.

“Pemanfaatan ruang harus disesuaikan daya dukungnya. Kalau airnya sepet, kontur tanah bergelombang, kita perlu impor air, impor energi. Itu namanya tidak sustainable, memberatkan orang yang tinggal di dalamnya,” pungkas Andy.

Source : www.kumparan.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here