Ukraina Manfaatkan Semua Jalur Diplomasi dalam Hadapi Rusia

0
41
Delegasi China yang dipimpin Yang Jiechi, direktur Kantor Komisi Urusan Luar Negeri China (kiri) mengadakan pembicaraan dengan delegasi AS dipimpin penasihat keamanan nasional, Jake Sullivan, di Roma hari Senin (14/3).
Advertisement

Pertempuran untuk menentukan nasib Ukraina terjadi di berbagai bidang. Para pejabat AS terbang ke seluruh dunia untuk temui warga sipil yang terdampak perang, sambil berbicara, baik virtual maupun tatap muka, dengan pejabat dari negara-negara lain yang memiliki peran untuk akhiri konflik tersebut. 

Sementara pasukan Rusia terus meneror Ukraina, sebuah hotel sederhana di Italia menjadi lokasi ‘pertempuran’ terbaru untuk menentukan nasib negara itu.

Pada hari Senin (14/3), penasihat keamanan nasional AS, Jake Sullivan, melakukan pertemuan selama tujuh jam di Roma dengan Yang Jiechi, direktur Kantor Komisi Urusan Luar Negeri China. Pejabat pemerintah AS menggambarkannya sebagai pertemuan yang “intens,” di mana Washington mengingatkan Beijing secara tertutup mengenai konsekuensi apabila China melanggar sanksi untuk mendanai perang Rusia.

Juru Bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan, “Saya kira apa yang telah kami sampaikan dan apa yang disampaikan oleh penasihat keamanan nasional dalam pertemuan ini: apakah mereka patut memberikan bantuan militer atau lainnya yang tentu saja melanggar sanksi atau mendukung upaya perang, itu akan ada konsekuensinya yang signifikan. Tetapi dalam hal seperti apa rinciannya, kami akan berkoordinasi dengan mitra dan sekutu kami untuk membuat keputusan itu.”

Hanya dalam waktu kurang dari tiga minggu, pertempuran itu memaksa 2,8 juta penduduk Ukraina mengungsi. Kebanyakan pengungsi adalah perempuan dan anak-anak, mengingat laki-laki Ukraina berbadan sehat dilarang pergi.

Relawan sipil, di bawah komando Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, kini menjadi sumber sebagian besar perlawanan terhadap tentara profesional Rusia.

Washington menyatakan pihaknya tidak akan mengirimkan tentara ke Ukraina, menolak seruan Zelenskyy untuk memberlakukan zona larangan terbang, dan menolak proposal Polandia untuk mengirim jet buatan Rusia milik Polandia ke Ukraina melalui pangkalan udara AS di Jerman. Pada hari Sabtu (12/3), Presiden AS Joe Biden menyetujui bantuan AS dalam bentuk pendidikan dan pelatihan militer untuk tentara Ukraina senilai hingga $200 juta.

Sepanjang akhir pekan, empat senator AS mengunjungi Polandia, tujuan utama para pengungsi Ukraina.

Senator Richard Blumenthal menuturkan, “Yang saya lihat di perbatasan adalah perlunya AS untuk segera bertindak, bukan besok, bukan tahun depan. Sekarang. Ada urgensi pada saat ini yang menuntut perhatian dunia dan rakyat Amerika.”

Senator Amy Klobuchar mengatakan kepada VOA bahwa AS masih memiliki opsi untuk membantu Ukraina. “Kami tidak akan memberi (Presiden Rusia) Vladimir Putin peta jalan tentang bagaimana itu bisa dilakukan. Ada banyak cara – apakah itu lebih banyak drone, atau senjata lain – yang dapat membantu. Dan jelas, kami semua berkomitmen melakukan itu, kami harus berbuat lebih banyak,” tandasnya.

Sementara itu, Senator Rob Portman mengatakan China juga punya peran. “China perlu berhati-hati di sini, karena AS memiliki kemampuan, melalui pasar kami, untuk membuat ekonomi China goyah juga secara signifikan. Mereka bergantung pada kami. Dan kami juga saling bergantung,” ujarnya.

Juru bicara kementerian luar negeri China mengatakan kepada wartawan hari Senin (14/3) bahwa China telah “memainkan peran konstruktif dalam mempromosikan pembicaraan damai” di Ukraina dan menuduh AS membuat tuduhan palsu. Ia tidak mengonfirmasi atau menyangkal pertanyaan langsung yang menanyakan apakah China berencana mendukung Rusia nantinya.

Pada hari yang sama, delegasi Rusia dan Ukraina mengadakan perundingan damai putaran keempat secara virtual. Zelenskyy mengatakan ia mengharapkan pertemuan tatap muka dengan Putin.

Bahkan negara-negara yang lokasinya jauh pun ikut terlibat. VOA bertanya kepada Psaki apakah Gedung Putih sedang mempertimbangkan tawaran Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa untuk menengahi kedua pihak.

Psaki mengatakan, “Ada enam pemimpin dunia yang telah bertemu dengan pemimpin Rusia dan Ukraina dan tentu saja berkomunikasi langsung melalui saluran diplomatik dan mencoba untuk mencapai kesimpulan diplomatik di sini. Kami telah berkomunikasi langsung dengan mereka, baik di depan maupun di belakang percakapan-percakapan itu, dan mendorong mereka untuk memastikan bahwa mereka juga berkomunikasi dengan Ukraina, bukan hanya Rusia.”

Dan Zelenskyy, yang menolak meninggalkan negaranya dan telah mengeluarkan video demi video yang ditujukan bagi warganya dan para pembuat kebijakan di seluruh dunia, kini tengah membuka jalur perjuangan secara virtual. Pada hari Rabu (16/3), ia akan berbicara secara tertutup di hadapan seluruh anggota Kongres AS. [rd/lt]

Source : www.voaindonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here