Pangeran Saudi: di Antara Tekanan Barat dan Dilema Hadapi Rusia, China

0
86
Putra mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. (Foto: Reuters)
Advertisement

Amerika Serikat (AS) dan Inggris meningkatkan tekanan pada Arab Saudi untuk memasok lebih banyak minyak dan turut mengisolasi Rusia, sementara Riyadh hanya menunjukkan sedikit kesiapannya untuk menanggapi permintaan tersebut. Di lain hal, Saudi juga menghidupkan kembali ancaman untuk membuang dolar dalam penjualan minyaknya ke China.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson terbang ke negara pengekspor minyak mentah terbesar dunia itu pada Rabu (16/3), sehari setelah penasihat keamanan AS Brett McGurk tiba dengan delegasi AS.

Arab Saudi dan tetangganya Uni Emirat Arab, yang merupakan salah dua dari segelintir produsen yang memiliki cadangan minyak berlebih, yang menolak seruan Barat untuk menggelontorkan lebih banyak minyak mentah untuk menetralisir harga yang melonjak. Keduanya tetap berpegang pada pakta pasokan OPEC+ dengan Rusia dan lainnya.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman, penguasa de facto kerajaan, telah menghadapi kritik tajam dari negara-negara Barat terkait sejumlah kasus, seperti atas pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi pada 2018, catatan hak asasi manusia Riyadh dan perang Yaman. Presiden AS Joe Biden, sejauh ini, menolak untuk berhubungan langsung dengan sang pangeran, yang dikenal dengan sebutan MbS.

Pada saat hubungan AS-Saudi berada pada titik rendah, MBS telah merespons tudingan tersebut dengan memperkuat hubungan dengan Rusia dan China, meskipun kerajaan itu masih memiliki hubungan keamanan yang erat dengan Washington.

McGurk dan pejabat AS lainnya bertemu dengan pejabat senior Saudi pada Selasa (15/3), mendesak mereka untuk memompa lebih banyak minyak dan menemukan solusi politik untuk mengakhiri perang di Yaman, di mana pasukan pimpinan Saudi memerangi kelompok Houthi yang didukung Iran, kata dua sumber.

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, kiri, dan Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara pada awal KTT G20 di Buenos Aires, Argentina, Jumat, 30 November 2018. (Foto: AP)
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, kiri, dan Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara pada awal KTT G20 di Buenos Aires, Argentina, Jumat, 30 November 2018. (Foto: AP)

“Anda salah jika berpikir Washington akan menyerah pada dua file ini,” salah satu dari dua sumber, yang akrab dengan diskusi itu, mengatakan kepada Reuters.

Perdana menteri Inggris, sementara itu, menggambarkan Arab Saudi dan UEA sebagai “mitra internasional utama” dalam upaya untuk memotong ketergantungan dunia terhadap hidrokarbon Rusia dan memberi tekanan pada Presiden Rusia Vladimir Putin setelah Moskow menginvasi Ukraina.

Namun Abdulkhaleq Abdulla, seorang analis politik terkemuka Emirat, mengatakan Johnson seharusnya tidak berharap banyak. “Boris akan kembali dengan tangan kosong,” tulisnya di Twitter.

Diplomasi Minyak AS Hadapi Lonjakan Harga Minyak

Untuk saat ini, Arab Saudi tidak menunjukkan tanda-tanda meninggalkan pakta pasokan minyak yang dibuat antara Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, termasuk Rusia, yang telah melihat kelompok yang dikenal sebagai OPEC+ hanya menaikkan produksi minyak secara bertahap.

Pada pertemuan OPEC+ terakhir pada 2 Maret, kurang dari seminggu setelah Rusia menginvasi Ukraina dan ketika Barat meningkatkan sanksi terhadap Moskow, para menteri menghindari pembicaraan terkait Ukraina dan dengan cepat setuju untuk tetap berpegang pada kebijakan yang ada.

Sementara itu, Riyadh telah mengisyaratkan ingin hubungan yang lebih dekat dengan Beijing dengan mengundang Presiden China Xi Jinping untuk berkunjung tahun ini. The Wall Street Journal mengatakan Arab Saudi sedang dalam pembicaraan untuk menentukan harga beberapa minyak mentah yang dijualnya ke China dalam mata uang yuan.

“Jika Arab Saudi melakukan itu, itu akan mengubah dinamika pasar valas,” kata seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut, seraya menambahkan bahwa langkah seperti itu – yang menurut sumber itu telah lama diminta oleh Beijing dan Riyadh telah mengancam untuk memberlakukannya sejak 2018 lalu. – dapat mengakibatkan pembeli lain mengikuti langkah serupa.

Seorang diplomat mengatakan Riyadh beralih ke “ancaman lama” untuk mendorong kembali ke Barat. Diplomat dan yang lainnya mengatakan setiap pergeseran ke yuan akan menghadapi tantangan praktis, mengingat minyak mentah dihargai dalam dolar, riyal Saudi dipatok ke greenback dan yuan tidak memiliki peran yang sama sebagai mata uang cadangan.

“Ini akan menjadi sembrono, mengingat harga minyak global dalam dolar dan mata uang yang dipatok, belum lagi jumlah utang Saudi yang dihargai dalam dolar, aset cadangannya dalam dolar dan kepemilikan mereka atas ekuitas AS,” kata Karen Young, seorang sarjana residen di Institut Perusahaan Amerika.

Ladang minyak Shaybah Saudi Aramco di Shaybah di gurun Rub al-Khali Arab Saudi. (Foto: AP)
Ladang minyak Shaybah Saudi Aramco di Shaybah di gurun Rub al-Khali Arab Saudi. (Foto: AP)

“Mungkin ada beberapa kontrak dalam yuan antara Arab Saudi dan China, tetapi tidak ada reorientasi kebijakan moneter Saudi,” katanya.

Bank sentral Saudi memiliki aset senilai $492,8 miliar pada akhir Januari, termasuk $119 miliar dalam Treasury AS.

Pemerintah memiliki utang mata uang asing – sebagian besar dalam dollar, sebesar $101,1 miliar pada akhir 2021, sementara dana kekayaan negara Saudi memegang $56 miliar dalam ekuitas AS.

Monica Malik, kepala ekonom di Abu Dhabi Commercial Bank, mengatakan Arab Saudi dapat secara perlahan mengalihkan sebagian penjualan ke yuan. “Pergeseran bertahap akan berdampak terbatas,” katanya.

Dan bahkan ketika para pejabat AS bertemu di Riyadh, Departemen Luar Negeri AS mengatakan pada Selasa (15/3) bahwa Washington tidak meminta sekutunya untuk memilih antara Amerika Serikat dan China. [ah/rs]

Source : www.voaindonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here