AS Minta Rusia Ditendang dari G20, Apa yang Harus Dilakukan Indonesia?

0
43
Presiden AS Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu untuk KTT AS-Rusia di Villa La Grange di Jenewa, Swiss, Rabu (16/6). Foto: Kevin Lamarque/REUTERS
Advertisement

Amerika Serikat kembali meminta agar Rusia dikeluarkan dari G20. Negeri Paman Sam bahkan mengancam tidak akan ikut serta pada berbagai pertemuan forum multilateral tersebut jika Rusia ikut serta.

Invasi Rusia di Ukraina menjadi alasan utama AS meminta Rusia ditendang dari forum negara-negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Bukan sekali hal itu dilakukan AS. Sejak 2022 berjalan AS kerap melontarkan wacana tersebut.

Yang teranyar Menteri Keuangan AS Janet Yellen, pada Rabu (6/4/2022), menegaskan AS siap memboikot beberapa pertemuan G20 yang dihadiri oleh delegasi Negeri Beruang Merah.

“Keputusan terkait kehadiran di pertemuan-pertemuan mendatang akan ditentukan berdasarkan situasi,” ujar juru bicara Kedutaan Besar Amerika Serikat Michael Quinlan mengkonfirmasi ucapan Yellen.

AS Minta Rusia Ditendang dari G20, Apa yang Harus Dilakukan Indonesia? (1)
Seorang wanita menangis di dekat bangunan tempat tinggal yang rusak selama konflik Ukraina-Rusia di kota Volnovakha yang dikuasai separatis di wilayah Donetsk, Ukraina 11 Maret 2022. Foto: REUTERS/Alexander Ermochenko

“Amerika Serikat mendukung Presidensi G20 Indonesia dan mengharapkan tahun kesuksesan G20. Namun, G20 tidak dapat dilaksanakan seperti biasa tanpa membicarakan invasi ilegal Rusia terhadap Ukraina, yang telah mempengaruhi ekonomi global,” tambah Quilan saat dihubungi kumparan.

Sikap AS tentunya membuat Indonesia terseret persoalan tersebut. Sepanjang 2022 ini Indonesia merupakan Presiden dari G20.

Indonesia Harus Fokus terhadap Agenda G20 dan Tidak Memihak

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menilai sikap AS merupakan bagian dari dinamika yang harus dihadapi Indonesia di G20. Kemlu pun memilih untuk tidak berkomentar banyak.

“Kita mencermati apa yang dikatakan oleh Menteri Keuangan Amerika Serikat, namun tentunya kita juga memiliki kebijakan untuk tidak mengomentari statement yang disampaikan. Tidak semua pernyataan perlu kita respons,” kata Juru Bicara Kemlu Indonesia Faizasyah saat konferensi pers daring, pada Kamis (7/4/2022).

AS Minta Rusia Ditendang dari G20, Apa yang Harus Dilakukan Indonesia? (2)
Jubir Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

“Dari perspektif Indonesia, kita menjalankan apa yang menjadi preseden penyelenggaraan G20 selama ini dengan tetap mengharapkan kehadiran seluruh anggota G20 dalam berbagai rangkaian pertemuan,” sambung dia.

Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, berharap Indonesia tetap fokus terhadap tujuan utama agenda G20 itu sendiri dan menjadi tuan rumah yang baik.

“AS sadar bahwa semua ini harus mengutamakan G20. G20 itu forum ekonomi, perdagangan, pembangunan – jadi ya kita bicaranya itu dan Indonesia juga punya risiko. Jangan sampai G20 ini bubar karena kita gagal menyelenggarakannya dengan benar dan tidak konsisten dengan tujuan G20 itu sendiri,” ucap Teuku Rezasyah.

Teuku Rezasyah beranggapan bahwa momentum Indonesia yang menjadi tuan rumah G20 di tengah konflik yang terjadi merupakan suatu tantangan tersendiri bagi Indonesia dan politik bebas aktifnya.

“Saran saya Indonesia jangan sampai terjebak, G20 ini masih 6 bulan lagi. Dan 6 bulan ke depan banyak hal bisa saja terjadi. Apalagi ini pertama kalinya dalam sejarah kita memegang presidensi G20. Jadi jangan sampai kita terjebak dengan tekanan dari pihak mana pun untuk mengundang salah satu pihak ataupun tidak mengundang salah satu pihak. Ini tantangan yang besar untuk politik bebas aktif Indonesia,” tambah dia.

G20 Adalah Kesempatan untuk Negara Anggotanya Berdialog

Keputusan AS yang kontroversial itu juga dinilai cenderung melampiaskan egonya terhadap Indonesia yang telah berupaya melakukan berbagai persiapan menjelang pertemuan tersebut, hal ini disampaikan oleh Guru Besar Hukum Internasional di Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana.

“Sikap AS seolah tidak berempati dengan posisi Indonesia sebagai tuan rumah G20. Ini mengingat Indonesia telah melakukan berbagai persiapan, bahkan menyelenggarakan pertemuan-pertemuan di tingkat teknis untuk membahas terobosan bagi tumbuhnya perekonomian dunia – semua ini dimatikan karena medan perang antara Rusia dengan AS dan sekutunya telah dipindahkan dari Ukraina ke Indonesia,” ujar Hikmahanto.

“Indonesia tidak ingin ditekan dalam mengundang Rusia sebagai anggota G20 dan Indonesia juga tidak ingin dijadikan medan untuk melanjutkan upaya menjatuhkan Putin sebagai Presiden Rusia,” lanjut dia.

Kehadiran Vladimir Putin nantinya di G20 dinilai justru bisa dijadikan kesempatan untuk negara-negara anggota berdiskusi secara damai dengan Rusia terkait konflik yang saat ini dihadapi untuk mencari solusi dan mengatasi krisis yang ada.

“Dengan kita mengundang Rusia bukan berarti kita pro Rusia – ini sesuatu yang Barat selalu pikirkan. Padahal kita hanya menggunakan cara yang berbeda dengan mereka untuk approach Rusia. Rusia tidak bisa didekati dengan sanksi, mereka harus didekati dengan dialog,” kata Guru Besar Hubungan Internasional di Universitas Indonesia, Evi Fitriani.

AS Minta Rusia Ditendang dari G20, Apa yang Harus Dilakukan Indonesia? (3)
Suasana ruangan yang akan digunakan untuk Pertemuan Tingkat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 (G20 FMCBG) di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (16/2/2022). Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

“Menurut saya apa yang dilakukan Indonesia selama ini sudah baik – bahwa kita berusaha tidak mau membuat G20 jadi tempat untuk sanksi bagi Rusia. Kita ingin jadikan G20 sebagai forum kerja sama dan justru di situ tempat kita berdialog,” tambahnya.

Menurut Evi, apabila forum G20 dijadikan medan untuk pemberian sanksi terhadap Rusia seperti yang diinginkan oleh AS, maka jika mengacu terhadap sejarah awal pendiriannya G20, secara tidak langsung itu adalah cara untuk merusak dan menyabotase tujuan utama dari didirikannya G20 itu sendiri.

“Awalnya G20 didirikan itu sebenarnya untuk ‘membantu’ Amerika dan negara-negara yang pada tahun 2008 sedang dilanda krisis. Jadi forum kerja sama untuk menstabilkan ekonomi global. Sehingga kalau sekarang G20 mau ‘diganggu’, itu tidak akan berfungsi karena sebenarnya nanti yang rugi juga akan Amerika dan negara-negara besar lain. Karena itu forum yang tadinya memang untuk kerja sama untuk menyelamatkan negara-negara besar di G7 yang sudah menguasai ekonomi dunia sejak berakhirnya perang dunia kedua,” jelas Evi.

Terkait siapa pihak yang diundang dan tidak diundang, hal tersebut tentunya harus melalui sistematika konsensus keanggotaan yang tidak bisa hanya ditentukan oleh satu pihak dan Indonesia sebagai tuan rumah diperlukan untuk fokus terhadap agenda G20 itu sendiri terlepas dari konflik internal yang terjadi di salah satu negara anggotanya.

“Jangan pindahkan konflik dengan Rusia ke Forum G20. Tidak seharusnya pernyataan akan hadir atau tidak disampaikan pada saat ini dan digantungkan pada syarat hadir tidaknya Rusia. Biarkan semua mengalir pada saatnya,” kata Hikmahanto.

Source : www.kumparan.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here