Fotonya Pegang Senjata Tersebar di Medsos, Prof Karna UGM Beri Penjelasan

0
28
Prof Karna Wijaya. Foto: LinkedIn
Advertisement

Guru Besar FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Karna Wijaya yang diduga menghina insiden pengeroyokan Ade Armando dituduh ikut gerakan radikal oleh warganet. Foto-foto Karna memegang senjata pun bertebaran di medsos.

Terkait foto tersebut, Karna memberikan penjelasan. Karna menyebut senjata dalam foto tersebut merupakan air soft gun.

“Itu air soft gun,” katanya dikonfirmasi, Selasa (19/4).

Dia menjelaskan bahwa dirinya memang hobi air soft gun. Air soft gun itu pun menurutnya dia beli di Jakarta.

“Bisa dibeli di Jakarta,” katanya.

Lanjutnya, air soft gun itu dahulu juga banyak dijual di Yogyakarta. Namun banyak yang tutup karena pangsa pasar di Yogya tidak bagus.

“Dulu di Yogya juga banyak yang jual. Sekarang sudah pada tutup karena pangsa pasar Yogya kurang bagus,” bebernya.

Di sisi lain, terkait tuduhan dirinya dekat dengan kelompok radikal dinilai tidak beralasan.

“Ya silakan saja saya dituduh NII. Apa alasannya?” kata Karna.

Menurutnya tuduhan dirinya dekat dengan kelompok radikal tidak berdasar karena tidak ada fakta maupun datanya. Tuduhan tersebut hanyalah opini semata.

“Sama (baik Guntur Romli atau tuduhan di medsos) hanya opini dan mungkin kemarahan. Semua tuduhan harus ada fakta atau datanya,” katanya.

Karna mengatakan bahwa tuduhan Guntur Romli adalah framing. Padahal selama ini, keduanya juga tidak saling mengenal.

“Dia mau memframing saya saja, padahal dia gak kenal saya dan juga saya tak kenal dia. Dia punya buktinya? Atau hanya opininya saja?” ungkapnya.

Fotonya Pegang Senjata Tersebar di Medsos, Prof Karna UGM Beri Penjelasan (1)
Guru Besar FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Karna Wijaya. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Karna pun sebelumnya telah angkat bicara terkait postingan soal Ade Armando yang kini menjadi polemik. Menurutnya, dia hanya sebatas bercanda dalam unggahannya di Facebook. Karna sendiri juga telah dimintai keterangan oleh rektor dan Dekan FMIPA terkait persoalan ini.

“Saya memposting sesuatu yang sebetulnya hanya gojekan (bercanda) saja ya,” kata Karna ditemui wartawan di Gedung Rektorat UGM, Senin (18/4).

Dijelaskan Karna bahwa sebenarnya komentar Ade Armando selama ini juga disebutnya lebih sadis.

Selain itu, Karna menjelaskan bahwa dia juga kerap berkomentar bermacam hal di Facebooknya. Mulai dari soal kejahatan jalanan, ekonomi dan lain sebagainya. Namun postingan itu tidak digoreng oleh pihak lain.

“Ada kasus yang lain misalnya begal (yang turut Karna komentari di Facebook). Ada kasus sosial politik yang lain, ekonomi, yang juga ada di situ tetapi tidak digoreng pihak yang lain. Yang digoreng hanya (soal) Ade Armando saja,” bebernya.

Lanjutnya, postingan tersebut menurut Karna diunggah ulang oleh seseorang ke Facebook Kagama Virtual, yang mana Karna tidak aktif di situ. Dia baru tahu setelah ada teman-temannya yang memberi tahu.

“Tetapi, teman-teman yang ada di situ pada memberikan laporan kepada saya ‘loh postingan kamu kok dishare, terlihat seperti diedit, ada kata-kata seperti disembelih’. Padahal kata disembelih itu berasal dari statement di lain, bukan konteks Ade Armando,” katanya.

Dugaan Karna orang yang mengunggah tangkapan layarnya ke grup FB itu berinisial JS. Hanya saja dia tidak punya bukti kuat karena unggahan milik Karna telah dihapus setelah muncul kegaduhan ini.

“Saya kira, saya tidak punya bukti ya. Karena waktu itu, ketika kegaduhan itu terjadi, pak dekan meminta saya buat menghapus. Jadi saya lupa screenshot juga,” katanya.

Karna sendiri tidak tahu apa maksud JS menggunggah tangkapan layar postingan Karna. Apakah orang tersebut ingin membuat kegaduhan atau kebencian kolektif kepada kepada Karna, dia pun belum mengetahui pasti.

“Nah, seandainya dia tersinggung, dia bukan friend saya juga di FB. Saya tidak kenal orang itu juga. Sayangnya, saya memang tidak menyetting akun FB saya private. Jadi privacynya tidak saya set ke private,” katanya.

Karna juga menanggapi soal postingan kolase foto sejumlah tokoh termasuk foto Ade Armando yang diberi tanda silang. Dia mengatakan, dirinya mengunggah foto itu dalam konteks bercanda. Foto itu juga berasal dari postingan grup WA.

“Itu saya ambil dari postingan lain ya. Bukan saya yang menyusun dari WA group itu. Dicicil massa itu sebenarnya guyonan. Saya mengekspresikan itu wajar saja. Tidak ada maksud politik ya, kalau mau dikaitkan politik ya monggo,” katanya.

Di sisi lain, Karna mengakui bahwa dia tidak menggunakan diksi atau pemilihan kata yang tepat dalam komentarnya. Sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda.

Karna juga turut menyampaikan permintaan maaf lantaran telah menimbulkan kegaduhan. Terlebih lagi UGM sampai ikut terseret dalam persoalan ini.

“Jadi, sekali lagi, kalau statement ini menimbulkan kegaduhan saya sekali lagi mohon maaf pada publik. Dan ini sedang diproses di UGM,” pungkasnya.

Source : www.kumparan.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here